Senin, 29 November 2010

Kepolisian bingung Judi bola cyber/ Internet makin semarak???

TRIBUNNEWS-
Perjudian bola diperkirakan meningkat di seluruh dunia seiring dimulainya perhelatan akbar Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Turnamen empat tahunan itu dipastikan menyedot perhatian masyarakat dunia, khususnya penjudi bola, untuk mengadu nasib.
Kepolisian Hongkong dan dan Shenzhen, Cina selatan, berhasil membongkar sindikat judi transnasional dalam bentuk taruhan pertandingan sepakbola. Bandar judi bola tersebut beromzet US$ 12 juta atau hampir Rp 113 miliar per bulan (kurs US$ 1 dollar = Rp 9.400).


Di Indonesia
Tindak kejahatan perjudian di Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir mulai marak. Hingga akhir Januari lalu, tercatat sebanyak 18 kasus perjudian ditangani aparat kepolisian setempat.
�Akhir-akhir ini, judi memang masuk tiga besar setelah Curanmor (pencurian kendaraan bermotor) dan unjuk rasa,� ujar Pjs Kabid Humas Polda Jatim AKBP Pudji Astuti di Surabaya, Sabtu (3/2).
Selama kurun 19-25 Januari, katanya, tercatat 17 kasus Curanmor, 11 kasus perjudian dan delapan aksi unjuk rasa. Setelah itu, selama kurun 26 Januari-1 Februari tercatat sembilan aksi unjuk rasa, lima kasus Curanmor, dan tujuh kasus perjudian.

�Bahkan, Unit V/Cyber Crime Direktorat II Ekonomi Khusus (Eksus) Bareskrim Mabes Polri yang dipimpin AKBP Edy Hartono telah menggerebek tersangka yang diduga bandar judi bola cyber di Lamongan pada 29 Januari lalu,� ungkapnya.
Menurut dia, judi bola yang beroperasi lewat jaringan Internet itu ditangani Mabes Polri, karena Polda Jatim memang belum mempunyai alat identifikasi cyber crime. Apalagi judi bola cyber itu ada kaitannya dengan jaringan di Jakarta dan Hong Kong.
�Dalam penggerebekan di Jalan Raya Babat, Lamongan itu, tim Mabes Polri membekuk tersangka Slamet Tjokrodihardjo alias Pin An yang diduga sebagai bandar judi bola cyber di daerahnya,� paparnya.
Kesulitan mendeteksi
Selain itu, lanjut dia, tim Mabes Polri juga menangkap sembilan karyawan dari rumah judi bola cyber yang beromzet Rp 15 miliar setiap bulan, yakni Hendra, Toni, Budi, Soni, Jeremi, Cellin, Joni, Tejo, dan Hendik.
Tim Mabes Polri juga menyita sejumlah barang bukti (BB), di antaranya 50 biji kaset, empat kartu kredit, dua handphone, tujuh laptop, 26 alat perekam, tiga printer, 10 CPU, sebuah pesawat telepon dan uang senilai Rp 3 juta.
Selang sehari kemudian, terangnya, tim Mabes Polri menangkap tersangka Sudarmono alias Pramono di Jalan Kapten Kiai Ilyas 143-B, Jakarta dengan BB berupa dua komputer, tiga pesawat telepon, dan sebuah alat penerima.
�Jadi, penggerebekan itu sebenarnya merupakan hasil pengembangan dari penyelidikan provider judi bola cyber di Hong Kong yang menjalar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Modus itu menunjukkan pelaku judi bola cyber di Lamongan dan Lumajang (Jatim) cuma pengepul,� kilahnya.
Terpisah, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Herman S Sumawiredja mengakui, pihaknya kesulitan mendeteksi judi bola cyber (dunia maya), karena tidak mempunyai alat identifikasi.
�Judi bola cyber itu ditangani Mabes Polri, karena kami memang belum mempunyai alat. Apalagi judi bola itu ada kaitannya dengan Jakarta dan Hong Kong,� ujarnya di Mapolda Jatim, Surabaya. - Ant

saduran:
http://www.tribunnews.com/2010/06/14/judi-bola-hongkong-cina-beromzet-rp-113-miliar
http://www.indonesiaindonesia.com/f/7770-polda-kesulitan-tangani-judi-bola-cyber/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar